Original Article:Beyond Agenda-Setting Oscar Gandy AGENDA SETTING: READINGS ON MEDIA, PUBLIC OPINION, AND POLICY MAKING D.L Protess & M. McCombs
Posting lain yang berasal dari tugas perkuliahan di program Pacsa Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Inti artikel Gandy ini mencoba mengungkap faktor-faktor diluar tubuh teori agenda-setting yang mempengaruhi implementasi teori tersebut. Faktor menonjol adalah pola hubungan yang terbentuk antara pekerja media dengan nara sumber. Review ini akan mengalami edit ulang demi meningkatkan kenyamanan membaca.
Untuk para mahasiswa dan akademisi yang kebetulan merasa artikel ini bermanfaat untuk tulisan yang akan dibuatnya, please respect your self and do the proper citation procedure. Pake tata krama kutip mengutip yang pantas ya. Terima kasih
Argumen inti dari teori agenda setting adalah isu-isu yang dianggap penting dan menjadi agenda oleh media massa akan berpengaruh secara linier terhadap isu-isu yang dianggap penting dan menjadi agenda oleh publik. Artikel berjudul “Beyond Agenda Setting” dari Oscar Gandy ini berupaya memaparkan isu-isu lanjutan mengenai pembahasan agenda setting. Isu-isu yang terkait namun tidak banyak dibahas dalam pembahasan inti teori agenda setting itu sendiri. Gandy terutama menggunakan pendekatan ekonomi politik untuk membedah faktor sumber berita yaitu gatekeeper dan nara sumber dalam konteks penyusunan agenda media.
Bagian awal artikel mengungkap kembali latar belakang sejarah teori. Kurt dan Gladys Lang disebut-sebut sebagai pihak yang awalnya menyinggung fungsi agenda setting bagi media massa. Mereka mengeluarkan argumentasi bahwa media massa membentuk suatu realitas yang sangat pervasif dan obtrusif sedemikian rupa yang sulit atau bahkan tidak mungkin menghindarkan diri dari pengaruhnya. Argumentasi tersebut mereka buat berdasarkan analisis terhadap kampanye pemilihan presiden tahun 1948 dan 1952. Mereka menyimpulkan, media memiliki suatu peran penting dalam mempengaruhi bagaimana para pemilih akan memilih. Kedua Langs menolak pendekatan “limited effects”/efek terbatas pengaruh media dari Josepsh Klapper yang didasari oleh riset dalam periode terbatas, yaitu di masa kampanye pemilihan saja. Menurut Lang semua berita relevan terhadap pemilihan dan bukan hanya terbatas pada pidato-pidato selama kampanye.
Berdasarkan pemikiran Lang inilah McCombs dan Shaw melakukan riset yang menyodorkan verifikasi empirik untuk pertama kalinya terhadap apa yang mereka namakan fungsi agenda setting media massa. Dalam riset mereka McCombs dan Shaw memilih massa mengambang (undecided voters) untuk menghindari bias pemilihan isu kampanye berdasarkan preferensi politik yang sudah terbentuk sebelumnya. Para subjek penelitian diminta untuk mengidentifikasikan isu-isu utama dalam kampanye sebagaimana yang mereka lihat, dengan mengabaikan posisi para kandidat pemilu terhadap isu-isu tersebut. Analisis isi terhadap media-media terpilih menghadirkan daftar 15 kategori isu yang dianggap sangat penting dan kurang penting bagi media seperti yang direfleksikan melalui jumlah pemunculan isu-isu tersebut. Ternyata terdapat korelasi yang tinggi antara apa yang dianggap penting oleh media dengan apa yang dianggap penting oleh massa mengambang. Ini dianggap bukti adanya kekuatan media untuk mempengaruhi nilai penting isu-isu yang kemudian membentuk agenda publik.
Publikasi riset ini kemudian memicu berbagai penelitian sejenis untuk melihat apakah hasil nya bervariasi sesuai jenis media dan kelompok-kelompok isu. Seperti halnya kajian efek media lain, riset-riset agenda setting mengungkap kompleksitas yang ada terhadap fenomena tersebut seiring dengan digunakannya berbagai variabel berbeda sebagai landasan perbandingan. Terdapat perbedaan hasil mengenai kekuatan dan keterkaitan antara konten dan agenda publik manakala peneliti menggunakan kondisi-kondisi yang berbeda. Perbedaan kesesuaian antara agenda media dan agenda publik antara lain dipengaruhi oleh:
1.
Derajat ketertarikan pengguna media terhadap urusan-urusan publik
2.
Pengetahuan pengguna media mengenai isu-isu dan posisi para kandidat terhadap isu-isu tersebut
3.
Keterlibatan pengguna media dalam diskusi isu-isu politik dengan teman dan keluarga
4.
Menunjukkan kebutuhan orientasi dalam pola-pola konten media yang berputar-putar
Permasalahan metodologi tentang pengukuran agenda media dan publik juga muncul kepermukaan. Teknik bertanya yang digunakan pun akan sangat berpengaruh terhadap jawaban yang muncul. Misalnya warga kulit hitam Amerika akan mengeluarkan respon yang berbeda ketika ditanya tentang masalah paling penting yang dihadapi pemerintah saat ini, dibandingkan ketika ditanya masalah paling penting apa yang dihadapi warga kulit hitam saat ini.
Terdapat pula masalah-masalah yang diasosiasikan dengan bagaimana menentukan hubungan yang seharusnya diantara perhatian media terhadap suatu isu dan pengaruhnya dalam mengangkat urutan prioritas penting tidaknya isu tersebut dalam agenda publik. Sebagian peristiwa atau isu dapat dengan mudah masuk menjadi agenda publik, sementara isu lainnya membutuhkan waktu lebih lama, dan landasan teoretis riset agenda setting yang ada tidak mampu memberikan perkiraan berapa lama jeda waktu yang optimal itu seharusnya terjadi. Problem mengenai waktu yang dibutuhkan suatu isu untuk masuk dalam agenda publik ini ditunjukkan Lang dalam kasus “Watergate”, walaupun liputan media telah gencar dilakukan semenjak kasus itu terungkap, isu Watergate ternyata membutuhkan waktu cukup lama untuk masuk menjadi agenda publik. Lang menggambarkan beberapa isu memiliki “low threshold” (ambang batas rendah) karena keterkaitan antara isu-isu tersebut dengan kesejahteraan personal individu tergolong cukup tinggi, atau dengan kata lain isu dalam liputan media langsung terkait dengan kepentingan audiens. Isu-isu yang tidak menyentuh langsung sebagian besar kehidupan audiens tampaknya memiliki ambang batas yang cukup tinggi, membutuhkan perhatian media yang memadai untuk mencapai tingkat perhatian dan kepentingan yang sama dalam kesadaran publik. Catatan tersebut mirip dengan apa yang disebut Gerbner sebagai resonansi, dimana kondisi nyata dan pengalaman memiliki pengaruh dalam meningkatkan dampak penggambaran media terhadap kekerasan dan kenyataan sosial. Dalam kasus Watergate tadi, pembobolan kantor partai republik tidak memiliki efek langsung bagi kehidupan sebagian besar audiens, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menggesernya menjadi agenda publik yang cukup penting membutuhkan waktu cukup lama.
Catatan mengenai kondisi-kondisi dan perhatian-perhatian penting yang diasosiasikan dengan pengumpulan bukti-bukti ilmiah untuk mendukung keberadaan efek agenda-setting cukup banyak dan panjang, dan tampaknya akan terus bertambah. Namun semua itu tampaknya mengarah pada kesimpulan bahwa : sebagian liputan media akan mempengaruhi agenda sebagian orang, tergantung isu-isu yang diangkat dan waktunya. Dengan mempertimbangkan elemen perbedaan individu, dapat dipastikan riset-riset akan menunjukkan sejumlah variasi temuan mengenai dampak agenda media. Namun hal tersebut dapat dipertanyakan pengaruhnya bagi analisis akhir mengenai kekuatan pengaruh media, karena seperti yang disebutkan Lang: formulasi agenda setting itu terlalu kecil dan terlalu berlebihan.
Kesadaran yang utuh tidak didasari oleh terpaan media semata. Walaupun pengaruhnya semakin mengecil, sebagian kesadaran itu didasari oleh pengalaman langsung dengan lingkungan sekitar. McCombs dan rekan tampaknya ingin membatasi bangunan agenda setting pada permasalahan nilai penting isu, maka Lang menganjurkan untuk melihat diluar batas pembahasan teori agenda setting untuk menentukan siapa sebenarnya yang menyusun agenda media, bagaimana dan untuk tujuan apa agenda itu disusun, dan dampak apa yang timbul dari sisi distribusi kekuasaan dan nilai dalam masyarakat.
Gandy menggunakan pedekatan ekonomi politik untuk mengembangkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi, dan menjauhi landasan tradisi psikologi sosial yang sering digunakan dalam sebagian besar penelitian empirik tentang komunikasi massa. Pengetahuan dan informasi tampaknya memiliki nilai ekonomi dan politik melalui kaitan mereka dengan kekuatan, atau pengendalian terhadap tindakan pihak lain. Dalam masyarakat kapitalis secara umum, dan di Amerika Serikat khususnya, kekuatan pengetahuan dan informasi telah teramplifikasi melalui kecenderungan masyarakat kapitalis untuk merubah barang-barang publik menjadi kepemilikan pribadi. Seperti halnya komoditas lain dalam pasar kapitalis, pasar informasi juga dicirikan melalui kekurangan dan surplus informasi sebagai komoditas. Misalnya Iklan dan materi promosi diproduksi secara berlebihan sementara informasi yang berkaitan dengan penelitian genetik sama sekali tidak tersedia bagi masyarakat umum.
Informasi menjiwai proses pengambilan keputusan baik di level individu maupun kolektif, karena itu pengendalian terhadap informasi berpengaruh terhadap pengendalian terhadap pengambilan keputusan. Pertukaran informasi sebagian besar digerakkan oleh determinasi ekonomi, maka penyimpangan distribusi sumberdaya ekonomi akan terefleksikan dalam penyimpangan distribusi informasi. Perspektif ekonomi seperti ini membuat kita dapat melihat bahwa pengendalian terhadap keputusan dan tindakan pihak lain sebagai penggunaan kekuatan untuk mengendalikan akses informasi. Dalam masyarakat kapitalis, manipulasi harga adalah salah satu cara untuk mengendalikan konsumsi informasi. Konsumsi akan meningkat saat harga komoditas rendah, sebaliknya konsumsi cenderung meningkat saat harga komoditas tinggi. Pihak yang memiliki kendali terhadap harga informasi, tidak hanya memiliki kendali terhadap konsumsi informasi tersebut, namun juga memiliki pengaruh terhadap keputusan-keputusan yang dilandasi oleh informasi-informasi tersebut. Tentu saja semua pihak yang berkepentingan terhadap keputusan-keputusan macam itu akan mendapatkan keuntungan dengan mempengaruhi harga yang harus dikeluarkan pihak-pihak lain untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan keputusan-keputusan tadi. Upaya mengurangi harga dilakukan untuk meningkatkan konsumsi informasi digambarkan sebagai subsidi informasi. Melalui subsidi informasi kepada dan melalui media massa inilah, kekuatan ekonomi mampu mempertahankan kendali terhadap masyarakat kapitalis. Lang menjauhi pendekatan psikologi sosial dan menggunakan pendekatan ekonomi politik untuk memahami peran informasi dan media dalam mempertahankan status quo.
Namun terdapat sejumlah elemen yang belum tergali, dan artikel-artikel dalam buku ini sepertinya berusaha mengeksplorasi dimensi-dimensi perilaku sumber informasi dan kondisi struktural yang memfasilitasi pemanfaatan informasi sebagai instrumen kontrol sosial.
Focus on The Source
Terdapat banyak cara untuk menggambarkan sumber-sumber konten media. Media dapat dipandang sebagai sesuatu yang bersifat kolektif tanpa membedakan berbagai jenis media yang ada, atau membagi media kedalam sub grup, cetak dan elektronik. Kelompok kecil peneliti lain meneliti konten media untuk memahami sifat organisasi berdasarkan konsistensi dan pola perhatian dan penekanan sumber-sumber informasi tertentu. Melalui pendekatan seperti ini, konten analis mampu menggambarkan kesimpulan tentang asumsi manajerial yang menentukan konten media massa.
Gerbner menggunakan pendekatan analisis proses instusional, yaitu teknik-teknik observasi baik partisipatif maupun non partisipatif untuk menggambarkan prosedur, tekanan-tekanan, dan batasan yang tergambar dalam produksi struktur karakteristik simbolik. Regularitas konten yang tergambar sepertinya merupakan hasil dari interplay diantara berbagai tekanan institusional yang berpengaruh kepada media melalui berbagai sumber kekuatan, seperti; penguasa yang mengeluarkan ijin dan mengatur hukum, penyedia modal, organisasi, institusi dan kumpulan publik, dan pihak manajemen yang menentukan kebijakan dan mengawasi operasi media.
Walaupun Gerbner mengidentifikasikan 9 sumber kekuatan utama yang mempengaruhi produksi pesan, riset-riset utama selama ini telah fokus pada kelompok yang disebutnya para ahli; tenaga kerja kreatif, teknisi, atau para profesional yang membuat, mengorganisasikan, dan mentransmisikan konten media. Termasuk dalam kelompok ini adalah para jurnalis, reporter, dan editor yang mengoperasikan gerbang informasi dalam pres kapitalis. Orang-orang tersebut disebut gatekeeper. Kajian tentang gatekeeper biasanya memandang konten sebagai hasil tindakan individual, dan berupaya memahami tindakan tersebut dengan mencoba memahami latar belakang personaliti jurnalis.
Kajian paling awal dan paling penting tentang gatekeeper ini dilakukan oleh David Manning White pada tahun 1950, yaitu kajian seleksi berita berdasarkan opini Mr. Gate. White mendata alasan Mr.Gate sebagai editor dalam menentukan berita mana yang layak dimuat. Hasilnya antara lain menunjukkan berita ditolak sebagian karena dianggap terlalu bersifat propaganda atau terlalu bersifat komunis (red), kadang ada yang ditolak karena diduga mengandung informasi palsu atau salah. Namun alasan paling penting adalah keterbatasan ruang media. Berita ditolak walaupun lolos seleksi editor sebelumnya karena tidak ada ruang yag cukup untuk mempublikasikannya. White menyimpulkan bahwa editor memiliki kekuasaan independen terhadap konten media dan bahwa masyarakat akan mendengar fakta-fakta dan kejadian yang dianggap benar oleh editor tersebut.
Walter Gieber memiliki pandangan yang lebih realistik tentang batasan kekuatan jurnalis dan editor secara individual: nasib suatu berita lokal bukan ditentukan oleh kebutuhan audiens atau bahkan oleh nilai yang terkandung didalamnya. Berita tersebut dikendalikan melalui kerangka referensi yang diciptakan oleh struktur birokrasi dimana sang komunikator menjadi anggotanya. Paul Hirsch membawa pendekatan strukturalis ini sedikit lebih dalam, Hirsch menyarankan bahwa tuntutan organisasi jauh melebihi preferensi individu apapun yang mungkin mengarahkan gatekeeper tunggal manapun. Analisis ulang terhadap kajian White menunjukkan konsistensi persentase berita yang dipilih editor dari sejumlah berita yang ditawarkan oleh kantor berita. Namun walaupun editor dapat memiliki sejumlah alasan atau justifikasi personal terhadap pilihan yang dibuatnya, sang editor sebenarnya sedang mempraktekkan kebebasan yang dimilikinya sebatas ruang yang diijinkan untuk memilih berita tertentu sesuai standar yang disepakati luas, dalam hal ini standar kepantasan pemuatan berita bagi segmen harian berukuran medium, di barat yang didominasi oleh pembaca konservatif.
Gatekeepers and Their Sources
Masih dalam konteks tuntutan organisasi atau struktural, penelitian terbaru terhadap sifat aktivitas pemberitaan telah mengenali adanya hubungan antara jurnalis dengan sumber informasinya. Bagi sebagian peneliti, hubungan ini bersifat sosial, bagi yang lainnya, hubungan tersebut pada dasarnya bersifat ekonomi.
Herbert Gans sering menggunakan metafora sosial yang memandang hubungan antara narasumer dengan jurnalis sebagai pasangan dansa, narasumber mencari akses terhadap jurnalis, dan jurnalis mencari akses terhadap narasumber. Walaupun seperti istilah populer, “in takes two to tanggo”, baik jurnalis maupun nara sumber dapat memimpin tarian, namun lebih sering terjadi narasumber lah yang memimpin. Berdasarkan pendapat Hess dapat disimpulkan bahwa kedekatan dan simpati alami dapat membawa jurnalis dan narasumbernya dalam suatu kontak.
Sebagian narasumber menjadi narasumber secara otomatis, karena mereka harus didekati berdasarkan posisi yang mereka dimiliki. Namun disisi lain reporter pun memilih narasumer yang diinginkannya. Bagi jurnalis terdapat narasumber yang cenderung dijauhi karena alasan gaya, bahasa birokratik, data yang kurang bisa diandalkan, dsb.
Pendapat lain mengemukakan mungkin saja kontak rutin antara jurnalis dan narasumber akan berkembang menjadi tingkat identifikasi personal tertentu, yang bisa jadi menghasilkan keengganan jurnalis untuk mengungkap informasi yang mungkin dapat melukai atau menghambat hubungan mereka. Edie Goldenberg menyebutkan interaksi antara jurnalis dan nara sumber seiring waktu cenderung menjauhkan reporter dari pembaca sebagai target utama laporan mereka. Jurnalis lama kelamaan cenderung menulis untuk narasumber yang menjadi teman karena kontak rutin tadi, daripada menulis untuk audiens massa. Pengaruh kedekatan sosial seperti penjelasan-penjelasan diatas mungkin dapat dikurangi dengan menggunakan pertimbangan ekonomi. Interaksi sosial pun dapat dipandang melalui terminologi cost dan benefit, investasi dan penghargaan. Jurnalis harus memenuhi tenggat waktu, editor harus mengisi ruang media, produser harus mengisi waktu diantara iklan komersil. Untuk mengurangi ketidakpastian dalam memenuhi tuntutan standar organisasi inilah, jurnalis membina hubungan pertukaran dengan narasumber yang dalam batasan tertentu mengandung banyak sifat pasar ekonomi tradisional.
Pada umumnya tidak terjadi pertukaran uang antara jurnalis dan narasumbernya kecuali dalam sejumlah kecil kasus “checkbook journalism”, dimana reporter membayar narasumber untuk informasi yang diberikan. Pertukaran yang terjadi lebih kepada pertukaran nilai dibandingkan pertukaran uang. Jurnalis memutuskan investasi waktu yang pantas untuk mengejar narasumber tertentu dibanding narasumber lainnya, berdasarkan pertimbangan probabilitas hasil seperti apa yang nantinya akan didapat. Narasumber yang telah terbukti memberikan informasi bernilai di masa lalu akan mendapat prioritas dibandingkan dengan narasumber yang tidak dikenal atau yang pernah memberikan informasi palsu atau salah dimasa lalu. Nilai narasumber juga rendah apabila informasi yang diberikan sulit dikemas kedalam cerita yang layak publikasi.
Kelompok narasumber tertentu telah dikenali sebagai narasumber yang lebih dapat diandalkan dibanding narasumer lain. Pejabat resmi, atau institusi birokrasi cenderung menjadi pihak yag paling dapat diandalkan, hasilnya suplai informasi birokratik mendominasi saluran-saluran berita di media massa. Mark Fishman malah melihat bahwa birokrasilah yang banyak melakukan pekerjaan jurnalis. Bahkan ketika jurnalis menyadari terdapat unsur kepentingan diri sendiri dalam suatu kontroversi, dan dengan sdikit upaya jurnalis dapat membentuk kajian yang lebih seimbang terhadap isu tersebut, Fishman berpendapat hukum upaya minimal biasanya menjadi pedoman perilaku jurnalis. Reportase investigatif atau berita-berita korporat membutuhkan waktu peliputan yang cukup memakan waktu, dan jurnalis memiliki keterbatasan waktu untuk memproduksinya. Ketika rata-rata jurnalis mungkin hanya membangun satu topik dalam satu minggu, pemanfaatan sumber-sumber birokratik memfasilitasi produksi dua atau lebih cerita rutin setiap harinya. Menurut term Goldenberg, reporter harus memiliki energi dan dedikasi yang luar biasa besar untuk melahirkan cerita-cerita untuk keluar dari ketergantungan terhadap sejumlah besar kisah-kisah sudah jadi yang berikan ketangan mereka. Para jurnalis harus berusaha sendiri melakukan jurnalisme investigatif. Ketergantungan terhadap narasumber birokrasi terbentuk karena kecenderungan jurnalis untuk menerima informasi dari narasumber rutin tersebut sebagai fakta. Ketika landasan faktual informasi tidak dipertanyakan, jurnalis tidak membutuhkan investasi waktu untuk melakukan verifikasi.
Para jurnalis mungkin mengingkari kemungkinan bahwa mereka telah diperalat propaganda birokrasi atau menyangkal mereka membebaskan narasumber dari segala bentuk kecurigaan, namun bukti-bukti ada di halaman-halaman koran. Leon Sigal menunjukkan bahwa dari 1200 cerita yang terbit di The New York Times dan Washington Post, 58% diantaranya diidentifikasikan berasal dari saluran birokratik. Hanya 25% kisah-kisah penting dalam koran terkemuka itu yang dapat diidentifikasikan sebagai hasil kerja jurnalisme investigatif. Walaupun jurnalis telah memastikan keabsahan informasi, masih terdapat pertimbangan ekonomi lain yang membuat para jurnalis ikut dalam arus. Fishman menyebutkan suatu contoh kasus; unit polisi baru berusaha meraih publisitas dengan membocorkan kisah meningkatnya penyerangan pemuda keturunan spanyol dan kulit hitam kepada kaum tua miskin berkulut putih, walaupun data statistik kepolisian menunjukkan penurunan akan jenis kejahatan seperti itu, para jurnalis tidak sanggup menahan tekanan untuk menuliskan kisah tersebut, karena jika mereka tidak menuliskannya maka media lain akan tetap menuliskannya. Jauh lebih murah jika mengikuti trend pemberitaan dibanding mengambil resiko kritik atau berinvestasi dalam memproduksi alternatif yang lebih menarik. Jelaslah bahwa jurnalis dan gatekeeper lain mendapat keuntungan dari hubungan yang mereka bangun dengan narasumber yang paling mampu memenuhi kebutuhan para jurnalis itu. Terlihat pula mengapa jurnalis memfavoritkan birokrat sebagai narasumber utama.
Namun narasumber pun dapat mengambil keuntungan dari hubungan ini. Nilai yang diperoleh dalam mengendalikan akses informasi terhadap target audiens melalui media massa menjadi benefit utama dan menjadi kontribusi upaya narasumber untuk mengendalikan keputusan-keputusan target audiens tadi. Informasi adalah masukan penting dalam menghasilkan pengaruh, dan tujuan utama media massa adalah mengantarkan informasi. Karena kredibilitas biasanya diasosiasikan dengan berita daripada iklan komersial, narasumber lebih memilih menghantarkan pesan mereka dalam berita berdurasi 30 detik daripada dalam iklan komersial 60 detik. Narasumber memilih reporter dan teknik menarik perhatian reporter dengan berpedoman pada prinsip efektivitas biaya. Konferensi pers, press release, brifing dipandang memiliki efisiensi ekonomis karena menyediakan akses terhadap sejumlah reporter sekaligus. Konsep “socialized journalism” yang disebutkan Dom Bonafede diaktualisasikan dalam bentuk pertemuan saat sarapan atau makan siang menjadi semakin populer dan efektif karena selain mampu menyelenggarakan waktu wawancara dengan sejumlah reporter sekaligus, juga memberikan kendali atas siapa saja yang diundang hadir.
Setiap narasumber memiliki target yang berbeda dalam melakukan subsidi informasi ini, maka pendekatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para jurnalis pun berbeda. Altheide dan Johnson mengemukakan bahwa pada umumnya birokrat mengarahkan subsidi informasinya kepada audiens khusus dibandingkan massa. Lalu narasumber lebih memilih saluran yang rutin digunakan oleh pejabat pemerintah tingkat tinggi dan para pengambil keputusan. Jadi walaupun lebih murah untuk memperoleh akses terhadap penerbitan kecil, dampaknya hampir tak ada artinya dibandingkan keberhasilan menggunakan suratkabar sekaliber The Washington Post.
Tujuan seluruh narasumber adalah mempengaruhi keputusan dengan merubah ketersediaan informasi yang melandasi keputusan-keputusan tersebut. Publik secara umum hanya memiliki keterlibatan marginal dalam penentuan kebijakan publik, dan karena upaya membentuk opini publik berbiaya tinggi, narasumber akan mendapatkan keuntungan dengan menggunakan pers untuk membentuk opini publik dibandingkan dengan mencoba mempengaruhinya secara langsung. Seringkali nilai subsidi informasi meningkat manakala narasumber dapat menyamarkan promosi, partisan dan kepentingan diri sendiri dalam liputan media. Ini kerap terjadi ketika berita memuat informasi yang diharapkan tanpa mengidentifikasi sumbernya. Informasi yang dapat diterima dengan penuh kehati-hatian jika narasumbernya disebutkan sebagai partisan dalam perdebatan, menjadi lebih kuat apabila diterima sebagai fakta objektif yang dilaporkan oleh jurnalis yang dianggap tidak memiliki kepentingan.
Narasumber juga kerap menggunakan media manakala mereka ingin mempengaruhi perdebatan ditempat mereka bekerja tanpa beresiko mengundang amarah atasan mereka. Narasumber seperti itu memberikan bocoran berita kepada para jurnalis. Bocoran berita juga sering digunakan pembuat kebijakan untuk menguji opini publik berkenaan dengan rancangan keputusan. Jadi ketika jurnalis menyeleksi sejumlah narasumber dan peristiwa berdasarkan kegunaan dalam proses produksi berita yang dapat memenuhi tuntutan organisasi tempat mereka bekerja, narasumber menyeleksi sejumlah besar pilihan teknik berdasarkan efisiensi relatif dalam menghasilkan pengaruh terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku pihak-pihak lain.

No comments:
Post a Comment
What do you think about this post?